Pendahuluan
Sampai lab sebelumnya, kita baru mengonfigurasi jaringan yang langsung terhubung (directly connected) — satu router hanya tahu network yang ada di interface-nya sendiri. Begitu ada network yang tidak terhubung langsung (misalnya harus melewati router lain dulu), router tidak akan tahu cara mengirim paket ke sana — kecuali kita beri tahu secara manual lewat Static Route.
Pada lab ini kita akan membangun topologi 3 router yang saling terhubung, lalu mengonfigurasi static route supaya PC yang ada di ujung jaringan R1 bisa saling ping dengan PC di ujung jaringan R3 — meskipun kedua LAN tersebut tidak terhubung langsung satu sama lain.
Pada lab ini kita akan belajar:
- Konsep Connected Route vs Static Route
- Menambahkan static route dengan parameter
dst-addressdangateway - Verifikasi jalur routing dengan
routing tabledantraceroute
Alat yang Dibutuhkan
- 3 unit MikroTik RouterOS/CHR (R1, R2, R3)
- 2 unit PC/Client (PC-1 di jaringan R1, PC-2 di jaringan R3)
- Aplikasi Winbox versi 4
Catatan environment: Tutorial ini didemonstrasikan menggunakan GNS3 dengan MikroTik CHR sebagai virtual router, dan Winbox versi 4 sebagai tools akses.
Topologi
Topologi 3 router (R1–R2–R3) dengan PC-1 di LAN R1 dan PC-2 di LAN R3. Link antar router menggunakan subnet /30, LAN menggunakan subnet /24.
Tabel Pengalamatan IP:
| Router | Interface | IP Address | Keterangan |
|---|---|---|---|
| R1 | ether1 | 10.12.12.1/30 | Link ke R2 |
| R1 | ether2 | 192.168.1.1/24 | LAN, ke arah PC-1 |
| R2 | ether1 | 10.12.12.2/30 | Link ke R1 |
| R2 | ether3 | 10.23.23.1/30 | Link ke R3 |
| R3 | ether1 | 10.23.23.2/30 | Link ke R2 |
| R3 | ether2 | 192.168.3.1/24 | LAN, ke arah PC-2 |
R2 berperan sebagai router tengah yang menghubungkan network R1 dan R3 — R2 sendiri sudah connected langsung ke kedua link (10.12.12.0/30 dan 10.23.23.0/30), tapi tetap tidak tahu cara menjangkau 192.168.1.0/24 (LAN R1) maupun 192.168.3.0/24 (LAN R3) tanpa static route.
Langkah Konfigurasi
1. Konfigurasi IP Address di Setiap Router
R1:
[admin@R1] > /ip address add address=10.12.12.1/30 interface=ether1
[admin@R1] > /ip address add address=192.168.1.1/24 interface=ether2
R2:
[admin@R2] > /ip address add address=10.12.12.2/30 interface=ether1
[admin@R2] > /ip address add address=10.23.23.1/30 interface=ether3
R3:
[admin@R3] > /ip address add address=10.23.23.2/30 interface=ether1
[admin@R3] > /ip address add address=192.168.3.1/24 interface=ether2
Verifikasi masing-masing router:
/ip address print
2. Cek Kondisi Awal — Connected Route Saja
Sebelum menambahkan static route, cek dulu routing table di R1:
[admin@R1] > /ip route print
Hanya akan muncul 2 baris route dengan flag C (Connected) — yaitu 10.12.12.0/30 dan 192.168.1.0/24. R1 belum tahu cara menjangkau 10.23.23.0/30 maupun 192.168.3.0/24.
Coba ping dari R1 ke ether1 R3 (10.23.23.2) — hasilnya akan gagal (request timeout), karena R1 belum punya rute ke sana.
Output /ip route print di R1 hanya menampilkan connected route, membuktikan R1 belum mengenal network di luar interface-nya.
3. Menambahkan Static Route di R1
R1 perlu tahu bahwa untuk menuju 10.23.23.0/30 dan 192.168.3.0/24 (network R3), paketnya harus dikirim lewat gateway 10.12.12.2 (yaitu R2).
[admin@R1] > /ip route add dst-address=10.23.23.0/30 gateway=10.12.12.2
[admin@R1] > /ip route add dst-address=192.168.3.0/24 gateway=10.12.12.2
Lewat Winbox (GUI):
Menu IP > Routes, klik + (Add), isi:
- Dst. Address:
192.168.3.0/24 - Gateway:
10.12.12.2
Klik Apply → OK.
Catatan: Screenshot di atas menampilkan contoh untuk 1 entry route saja (
192.168.3.0/24). Karena R1 butuh 2 static route sekaligus, ulangi langkah + (Add) yang sama sekali lagi dengan mengganti Dst. Address menjadi10.23.23.0/30dan Gateway tetap10.12.12.2. Pola "1 screenshot mewakili langkah yang diulang dengan nilai berbeda" ini juga berlaku di bagian lain lab ini yang memiliki lebih dari satu entry konfigurasi sejenis.
4. Menambahkan Static Route di R2
R2 sudah connected langsung ke kedua link (10.12.12.0/30 dan 10.23.23.0/30), tapi belum tahu cara menuju LAN di ujung masing-masing (192.168.1.0/24 dan 192.168.3.0/24).
[admin@R2] > /ip route add dst-address=192.168.1.0/24 gateway=10.12.12.1
[admin@R2] > /ip route add dst-address=192.168.3.0/24 gateway=10.23.23.2
5. Menambahkan Static Route di R3
Sama seperti R1, tapi kebalikan arahnya — R3 perlu rute menuju network R1 lewat gateway R2.
[admin@R3] > /ip route add dst-address=10.12.12.0/30 gateway=10.23.23.1
[admin@R3] > /ip route add dst-address=192.168.1.0/24 gateway=10.23.23.1
6. Verifikasi Routing Table
Cek ulang routing table di masing-masing router:
/ip route print
Sekarang akan muncul baris tambahan dengan flag S (Static) di samping baris C (Connected) yang sudah ada sebelumnya.
Output /ip route print di R1 menampilkan route dengan flag "S" (Static) menuju network 10.23.23.0/30 dan 192.168.3.0/24 melalui gateway 10.12.12.2.
Tips membaca flag routing table:
C= Connected (langsung terhubung),S= Static (manual ditambahkan),A= Active (rute yang sedang dipakai). Kalau ada flagStapi tidak adaA, biasanya gateway yang dituju tidak reachable — cek kembali IP dan koneksi fisiknya.
7. Pengujian Ping Router ke Router
Dari R1, uji ping ke ether1 R3:
[admin@R1] > /ping 10.23.23.2
Seharusnya berhasil — R1 sudah tahu cara mengirim paket ke R3 lewat R2.
8. Konfigurasi PC-1 dan PC-2
Set IP dan gateway pada masing-masing PC:
| PC | IP Address | Gateway |
|---|---|---|
| PC-1 | 192.168.1.10/24 | 192.168.1.1 |
| PC-2 | 192.168.3.10/24 | 192.168.3.1 |
9. Pengujian Akhir — Ping Antar PC
Dari PC-1, coba ping ke PC-2:
ping 192.168.3.10
Ping seharusnya berhasil, membuktikan static route sudah benar dari ujung ke ujung (end-to-end) melewati 3 router.
Hasil ping berhasil dari PC-1 ke PC-2, membuktikan static routing bekerja end-to-end melewati R1, R2, dan R3.
Untuk pembuktian tambahan, cek jalur yang dilewati paket dengan traceroute dari PC-1:
PC1> trace 192.168.3.10
Contoh hasil trace (jika menggunakan VPCS di GNS3):
hop 1 sampai 3 menunjukkan paket berhasil melewati R1 → R2 → R3 sesuai jalur static route yang sudah kita konfigurasi — ini sudah membuktikan routing bekerja dengan benar.
Hop terakhir (nomor 4) menampilkan IP tujuan (192.168.3.10) dengan keterangan "Destination port unreachable". Ini bukan tanda kegagalan — justru ini cara kerja normal dari traceroute: paket probe dikirim ke port acak yang sengaja tidak memiliki service, sehingga PC tujuan membalas dengan pesan ICMP "port unreachable" sebagai sinyal bahwa paket sudah benar-benar sampai di tujuan akhir. Tanda bintang (*) di depan IP hanya menandakan jenis balasannya berbeda (pesan error ICMP), bukan berarti tidak terjangkau.
Catatan: Tampilan hasil trace bisa sedikit berbeda tergantung tools yang dipakai (VPCS di GNS3, Windows
tracert, atau Linuxtraceroute), namun selama seluruh hop di tengah jalan (R1, R2, R3) berhasil muncul dengan waktu respons yang wajar, itu artinya static routing pada lab ini sudah berjalan dengan benar.
Ringkasan Perintah
| Router | Perintah Static Route |
|---|---|
| R1 | /ip route add dst-address=10.23.23.0/30 gateway=10.12.12.2/ip route add dst-address=192.168.3.0/24 gateway=10.12.12.2 |
| R2 | /ip route add dst-address=192.168.1.0/24 gateway=10.12.12.1/ip route add dst-address=192.168.3.0/24 gateway=10.23.23.2 |
| R3 | /ip route add dst-address=10.12.12.0/30 gateway=10.23.23.1/ip route add dst-address=192.168.1.0/24 gateway=10.23.23.1 |
Penutup
Pada lab ini kita berhasil menghubungkan dua network yang tidak terhubung langsung (LAN di R1 dan LAN di R3) dengan memanfaatkan Static Route di 3 router yang berperan sebagai jalur penghubung — R1 sebagai titik awal, R2 sebagai router tengah/transit, dan R3 sebagai titik akhir. Konsep dasar ini adalah pondasi dari hampir semua desain jaringan skala menengah — meskipun di jaringan besar biasanya dipakai routing protocol dinamis (OSPF, BGP) agar tidak perlu konfigurasi manual di setiap router.