Mikrotik 21 Agustus 2026

Konfigurasi Bridge Interface di MikroTik

Praktik menggabungkan beberapa interface fisik MikroTik menjadi satu broadcast domain menggunakan Bridge Interface, sehingga perangkat di port berbeda bisa saling komunikasi langsung tanpa routing.

Pendahuluan

Sebuah MikroTik RouterBoard biasanya memiliki lebih dari satu port Ethernet (misalnya ether2 sampai ether5). Secara default, tiap port adalah network terpisah — kalau Anda kasih IP berbeda di tiap port, PC yang tersambung ke ether2 dan PC yang tersambung ke ether3 sebenarnya masih bisa saling ping, tapi itu terjadi karena RouterOS otomatis meng-route paket keduanya lewat R1 sebagai gateway (bukan komunikasi langsung).

Bridge adalah fitur yang menggabungkan beberapa interface fisik menjadi satu broadcast domain (satu segment jaringan), persis seperti cara kerja switch. Dengan bridge, kedua PC akan berada di jaringan yang sama secara langsung — tanpa perlu proses routing sama sekali. Ini berguna misalnya ketika port bawaan RouterBoard tidak cukup untuk semua device, tapi Anda tidak mau/tidak punya switch tambahan — cukup bridge beberapa port MikroTik jadi satu.

Pada lab ini kita akan belajar:

  • Membuat Bridge Interface
  • Menambahkan beberapa port fisik sebagai Port Bridge
  • Verifikasi bahwa perangkat di port yang berbeda kini berada di satu network yang sama

Alat yang Dibutuhkan

  • 1 unit MikroTik RouterOS/CHR (R1) dengan minimal 3 port Ethernet
  • 2 unit PC/Client
  • Aplikasi Winbox versi 4

Catatan environment: Tutorial ini didemonstrasikan menggunakan GNS3 dengan MikroTik CHR sebagai virtual router, dan Winbox versi 4 sebagai tools akses. Jika Anda menggunakan Winbox versi 3 atau perangkat RouterBoard fisik, langkah dan perintah CLI tetap sama persis — hanya tampilan menu GUI yang mungkin sedikit berbeda posisi/layout dibanding screenshot pada tutorial ini.

Catatan untuk GNS3: Pastikan CHR instance memiliki minimal 3 network adapter yang di-attach (ether1, ether2, ether3), karena bridge butuh lebih dari 1 interface fisik untuk digabungkan.

Catatan jika melanjutkan dari lab sebelumnya: Jika ether2 dan/atau ether3 masih memiliki IP Address dari konfigurasi lab-lab sebelumnya (Lab 2/3), hapus dulu IP tersebut sebelum menambahkannya sebagai port bridge, untuk mencegah konflik.

Topologi

  • Bridge1: interface virtual yang menggabungkan ether2 dan ether3
  • IP Address 192.168.20.1/24 dipasang di Bridge1, bukan di port fisiknya
  • PC-1 dan PC-2: akan mendapat IP di segment yang sama meski tersambung ke port fisik berbeda

Langkah Konfigurasi

1. Membuat Bridge Interface

Lewat CLI:

[admin@R1] > /interface bridge add name=Bridge1

Lewat Winbox (GUI):
Menu Bridge, klik + (Add), isi Name: Bridge1, klik ApplyOK.

Jendela New Interface Bridge di Winbox (menu Bridge tab Bridge), dengan kolom Name diisi "Bridge1".

2. Menambahkan Port ke Bridge

Sekarang kita masukkan ether2 dan ether3 sebagai anggota (port) dari Bridge1.

Lewat CLI:


[admin@R1] > /interface bridge port add bridge=Bridge1 interface=ether2
[admin@R1] > /interface bridge port add bridge=Bridge1 interface=ether3

Lewat Winbox (GUI):
Menu Bridge, tab Ports, klik + (Add):

  • Interface: ether2, Bridge: Bridge1 → Apply
  • Ulangi untuk Interface: ether3, Bridge: Bridge1 → Apply

Tab Ports pada menu Bridge di Winbox, menampilkan ether2 dan ether3 yang sudah terdaftar sebagai anggota Bridge1.

Penting: Jangan menambahkan interface yang sudah punya IP Address langsung ke bridge sebelum IP tersebut dipindahkan/dihapus dulu — bisa menyebabkan konflik IP. Idealnya, pasang IP Address di interface Bridge1, bukan di port fisiknya.

3. Memasang IP Address di Bridge Interface

[admin@R1] > /ip address add address=192.168.20.1/24 interface=Bridge1

Lewat Winbox (GUI):
Menu IP > Addresses, klik + (Add), isi Address: 192.168.20.1/24, Interface: Bridge1, klik ApplyOK.

Jendela New Address di Winbox dengan Interface yang dipilih adalah "Bridge1", bukan ether2/ether3 secara langsung.

4. Mengaktifkan DHCP Server di Bridge

Supaya PC-1 dan PC-2 otomatis dapat IP satu segment yang sama, aktifkan DHCP Server di atas interface Bridge1 (bukan per-port):


[admin@R1] > /ip pool add name=pool-bridge ranges=192.168.20.10-192.168.20.100
[admin@R1] > /ip dhcp-server add name=dhcp-bridge interface=Bridge1 address-pool=pool-bridge
[admin@R1] > /ip dhcp-server network add address=192.168.20.0/24 gateway=192.168.20.1 dns-server=8.8.8.8
[admin@R1] > /ip dhcp-server enable dhcp-bridge

5. Verifikasi Bridge

Cek status bridge dan interface port-nya:


[admin@R1] > /interface bridge print
[admin@R1] > /interface bridge port print

6. Uji Konektivitas Antar PC

Sambungkan PC-1 ke ether2 dan PC-2 ke ether3. Pastikan keduanya mendapat IP otomatis di range 192.168.20.10–192.168.20.100.

Dari PC-1, coba ping ke PC-2 secara langsung:

ping 192.168.20.x   (ganti dengan IP PC-2)

Ping seharusnya berhasil, membuktikan bahwa meskipun terhubung di port fisik yang berbeda (ether2 dan ether3), keduanya kini berada dalam satu broadcast domain lewat Bridge1 — persis seperti tersambung ke switch yang sama, tanpa perlu melewati proses routing di R1.

Hasil ping berhasil dari PC-1 ke PC-2, membuktikan kedua perangkat berada dalam satu network yang sama setelah ether2 dan ether3 digabung lewat Bridge1.

Penutup

Pada lab ini kita berhasil menggabungkan dua interface fisik (ether2 dan ether3) menjadi satu Bridge Interface, sehingga perangkat yang terhubung di port berbeda tetap berada dalam satu jaringan yang sama secara langsung (Layer 2), tanpa melalui proses routing. Konsep ini banyak dipakai ketika port bawaan router tidak cukup, atau saat ingin menyatukan segment WLAN dan LAN menjadi satu broadcast domain (wireless bridging) — topik yang bisa dibahas di lab lanjutan.

Artikel ini membantu Anda?

Konten ini dibuat dan dirawat secara mandiri. Dukungan Anda membantu server dan pengembangan tutorial baru tetap berjalan.

Dukung Konten Ini di Trakteer

Ditulis oleh: angga