Pendahuluan
Sebuah MikroTik RouterBoard biasanya memiliki lebih dari satu port Ethernet (misalnya ether2 sampai ether5). Secara default, tiap port adalah network terpisah — kalau Anda kasih IP berbeda di tiap port, PC yang tersambung ke ether2 dan PC yang tersambung ke ether3 sebenarnya masih bisa saling ping, tapi itu terjadi karena RouterOS otomatis meng-route paket keduanya lewat R1 sebagai gateway (bukan komunikasi langsung).
Bridge adalah fitur yang menggabungkan beberapa interface fisik menjadi satu broadcast domain (satu segment jaringan), persis seperti cara kerja switch. Dengan bridge, kedua PC akan berada di jaringan yang sama secara langsung — tanpa perlu proses routing sama sekali. Ini berguna misalnya ketika port bawaan RouterBoard tidak cukup untuk semua device, tapi Anda tidak mau/tidak punya switch tambahan — cukup bridge beberapa port MikroTik jadi satu.
Pada lab ini kita akan belajar:
- Membuat Bridge Interface
- Menambahkan beberapa port fisik sebagai Port Bridge
- Verifikasi bahwa perangkat di port yang berbeda kini berada di satu network yang sama
Alat yang Dibutuhkan
- 1 unit MikroTik RouterOS/CHR (R1) dengan minimal 3 port Ethernet
- 2 unit PC/Client
- Aplikasi Winbox versi 4
Catatan environment: Tutorial ini didemonstrasikan menggunakan GNS3 dengan MikroTik CHR sebagai virtual router, dan Winbox versi 4 sebagai tools akses. Jika Anda menggunakan Winbox versi 3 atau perangkat RouterBoard fisik, langkah dan perintah CLI tetap sama persis — hanya tampilan menu GUI yang mungkin sedikit berbeda posisi/layout dibanding screenshot pada tutorial ini.
Catatan untuk GNS3: Pastikan CHR instance memiliki minimal 3 network adapter yang di-attach (ether1, ether2, ether3), karena bridge butuh lebih dari 1 interface fisik untuk digabungkan.
Catatan jika melanjutkan dari lab sebelumnya: Jika
ether2dan/atauether3masih memiliki IP Address dari konfigurasi lab-lab sebelumnya (Lab 2/3), hapus dulu IP tersebut sebelum menambahkannya sebagai port bridge, untuk mencegah konflik.
Topologi
- Bridge1: interface virtual yang menggabungkan
ether2danether3 - IP Address
192.168.20.1/24dipasang di Bridge1, bukan di port fisiknya - PC-1 dan PC-2: akan mendapat IP di segment yang sama meski tersambung ke port fisik berbeda
Langkah Konfigurasi
1. Membuat Bridge Interface
Lewat CLI:
[admin@R1] > /interface bridge add name=Bridge1
Lewat Winbox (GUI):
Menu Bridge, klik + (Add), isi Name: Bridge1, klik Apply → OK.
Jendela New Interface Bridge di Winbox (menu Bridge tab Bridge), dengan kolom Name diisi "Bridge1".
2. Menambahkan Port ke Bridge
Sekarang kita masukkan ether2 dan ether3 sebagai anggota (port) dari Bridge1.
Lewat CLI:
[admin@R1] > /interface bridge port add bridge=Bridge1 interface=ether2
[admin@R1] > /interface bridge port add bridge=Bridge1 interface=ether3
Lewat Winbox (GUI):
Menu Bridge, tab Ports, klik + (Add):
- Interface:
ether2, Bridge:Bridge1→ Apply - Ulangi untuk Interface:
ether3, Bridge:Bridge1→ Apply
Tab Ports pada menu Bridge di Winbox, menampilkan ether2 dan ether3 yang sudah terdaftar sebagai anggota Bridge1.
Penting: Jangan menambahkan interface yang sudah punya IP Address langsung ke bridge sebelum IP tersebut dipindahkan/dihapus dulu — bisa menyebabkan konflik IP. Idealnya, pasang IP Address di interface Bridge1, bukan di port fisiknya.
3. Memasang IP Address di Bridge Interface
[admin@R1] > /ip address add address=192.168.20.1/24 interface=Bridge1
Lewat Winbox (GUI):
Menu IP > Addresses, klik + (Add), isi Address: 192.168.20.1/24, Interface: Bridge1, klik Apply → OK.
Jendela New Address di Winbox dengan Interface yang dipilih adalah "Bridge1", bukan ether2/ether3 secara langsung.
4. Mengaktifkan DHCP Server di Bridge
Supaya PC-1 dan PC-2 otomatis dapat IP satu segment yang sama, aktifkan DHCP Server di atas interface Bridge1 (bukan per-port):
[admin@R1] > /ip pool add name=pool-bridge ranges=192.168.20.10-192.168.20.100
[admin@R1] > /ip dhcp-server add name=dhcp-bridge interface=Bridge1 address-pool=pool-bridge
[admin@R1] > /ip dhcp-server network add address=192.168.20.0/24 gateway=192.168.20.1 dns-server=8.8.8.8
[admin@R1] > /ip dhcp-server enable dhcp-bridge
5. Verifikasi Bridge
Cek status bridge dan interface port-nya:
[admin@R1] > /interface bridge print
[admin@R1] > /interface bridge port print
6. Uji Konektivitas Antar PC
Sambungkan PC-1 ke ether2 dan PC-2 ke ether3. Pastikan keduanya mendapat IP otomatis di range 192.168.20.10–192.168.20.100.
Dari PC-1, coba ping ke PC-2 secara langsung:
ping 192.168.20.x (ganti dengan IP PC-2)
Ping seharusnya berhasil, membuktikan bahwa meskipun terhubung di port fisik yang berbeda (ether2 dan ether3), keduanya kini berada dalam satu broadcast domain lewat Bridge1 — persis seperti tersambung ke switch yang sama, tanpa perlu melewati proses routing di R1.
Hasil ping berhasil dari PC-1 ke PC-2, membuktikan kedua perangkat berada dalam satu network yang sama setelah ether2 dan ether3 digabung lewat Bridge1.
Penutup
Pada lab ini kita berhasil menggabungkan dua interface fisik (ether2 dan ether3) menjadi satu Bridge Interface, sehingga perangkat yang terhubung di port berbeda tetap berada dalam satu jaringan yang sama secara langsung (Layer 2), tanpa melalui proses routing. Konsep ini banyak dipakai ketika port bawaan router tidak cukup, atau saat ingin menyatukan segment WLAN dan LAN menjadi satu broadcast domain (wireless bridging) — topik yang bisa dibahas di lab lanjutan.